Jumat, 21 September 2012

1 Heart 3 Boys (Bagian 1,part I)

<!--[if gte mso 9]> <![endif]
Terbayang lagi kini, saat ayah tercinta melepas kepergiannya
Walau ada gundah terhias di wajahku, namun aku tetap tabah
Di saat ibu pergi, ketulusan cintamu akan terpatri di sanubari
Do’a keikhlasanku mengantarkan kepergianmu

Ayah,…ibu,…
Kini kubersimpuh di pusara kalian
Maafkan anakmu, tak sempat bahagiakan kalian
Ayah,…ibu,…
Disaat segalanya tlah kurengkuh
Mengapa kalian pergi untuk selamanya?
(Diadaptasi dari “Ayah”-Star5)

Sore ini langit mendung, awan hitam menghiasi atap langit. Persis seperti perasaan Rei yang diliputi kesedihan. Hujan rintik dari matanya mengalir deras, tertumpah ruah tak dapat tertampung lagi. Bagaimana tidak, baru saja dia mengantarkan kedua orang tuanya ke…… peristirahatan terakhirnya. Ia benar-benar sedih dan terluka. Sekarang, ia tidak punya siapa-siapa lagi. Ia benar-benar sendiri. Dan saat ini, saat ia membutuhkan orang lain, tak ada siapapun di sini. Ia tenggelam dalam kesunyian dan kesedihan. Kesedihan akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Saat ia duduk termenung, ia dikagetkan dengan suara bel pintunya. Disusul dengan suara orang, “Permisi”.
Rei segera keluar kamar dengan hati yang masih terluka. Pakaian hitam masih membungkus tubuhnya. Saat melewati cermin, ia berhenti sejenak. Lalu memperhatikan wajahnya yang dibanjiri air mata. Matanya membengkak dan memerah. Segera dia hapus air matanya, walau tetap saja keluar dengan sendirinya.
“Permisi” Suara itu terdengar lagi.
“Ya sebentar!” Dengan berat Rei mrnjawab walau suaranya serak dan gemetar.
Kemudian Rei membuka pintu, dan melihat ada dua orang di hadapannya, yang tak asing lagi bagi Rei.
“Oom David” Sapa Rei kepada lelaki dihadapannya. Lalu ia berpaling pada perempuan di samping lelaki itu. “Tante Sonia” Sapanya kembali dengan ramah.
“Reisya” Suara Tante Sonia dengan nada yang lirih.
“Kami turut berduka cita” Kata Oom David dengan keprihatinan yang mendalam.
Rei merasa terpukul sekali dengan kata-kata yang sangat di bencinya itu. Dan tiba-tiba saja ia tak dapat menahan air matanya yang memaksa untuk keluar kembali. Tante Sonia langsung memeluknya. Sebuah pelukan yang hangat, yang ditunggu-tunggu Rei sejak tadi.
“Sabar sayang!” Tante Sonia mencoba menenangkan Rei yang tersedu-sedu di pelukannya.
Kemudian Rei dipapah menuju ruang tengah oleh Tante Sonia. Merekapun duduk. Air mata Rei masih mengalir, walau ia mencoba untuk menahannya.
“Kami tau kamu sedih sekali kehilangan kedua orang tuamu. Kami juga sedih kehilangan Pak Agung dan Bu Rani, yang jujur dan berjasa untuk kami” ucap Tante Sonia mencoba menghibur, meskipun Rei merasa tak terhibur.
“Rei, ayah dan ibumu adalah orang yang sangat baik, kami semua tau itu. Dan kami tak menyangka kalau mereka….” Oom David menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian ia melanjutkannya kembali. “Kalau mereka akan meninggalkan kita secepat ini”
“Rei, sekarang kamu akan tinggal sendiri, maukah kamu ikut dengan kami?” Sambung Tante Sonia, sambil mencengkram kedua tangan Rei.
Rei tercengang mendengar kata-kata itu, meskipun ia belum tau maksudnya. Ia tak menjawab, hanya menatap kedua orang yang ada di hadapannya silih berganti.
“Bagaimanapun juga, kami merasa bertanggungjawab atas musibah yang menimpa kedua orang tuamu” Oom David menjelaskan. “Seandainya kedua orang tuamu tidak kami kirim ke Surabaya, mungkin musibah ini tidak akan terjadi” Lanjutnya
Suasana sejenak hening. Tiba-tiba saja perasaan benci hinggap di hati Rei. Yah, mereka benar, andai saja ayah dan ibu tidak pergi ke Surabaya atas perintah Oom David, mungkin kecelakaan pesawat itu tidak akan terjadi. Namun, ia berfikir kembali. Tapi, apakah mereka yang membunuh ayah dan ibu?.....Tidak, bukan mereka. Sejenak kemudian perasaan benci itu hilang kembali.
“Ini bukan kesalahan siapapun, mungkin ini sudah menjadi takdir” Ucapnya kemudian pada orang yang sudah menunggu suaranya sejak tadi.

Bersambung.....
-->

Novel yang terbengkalai

Bagiku menulis itu memang membutuhkan mood, referensi, dan inspirasi..Terasa sekali ketika ku menulis cerita ini. Ku tulis cerita ini pada waktu kelas 3 SMA, tapi pada waktu kelas 3 akhir ak berhenti menulis karna ingin lebih fokus pada ujian akhir. Sebenarnya ending cerita ini sudah ku buat, tapi di tengah-tengah cerita aku stuck, bahkan berulang kali beberapa alur ceritanya ku ubah.. 
Awal kuliah ku coba meneruskan kembali cerita ini. Tapi ide-ide untuk menulis jadi hilang tergantikan dengan algoritma, dan coding-coding, ah pusiiiinnngg..
Dan kesibukanku memasuki dunia kuliah, hingga aku bekerja sekarang membuat cerita ini lagi-lagi menjadi terbengkalai.. Dan kini setelah 5 tahun, cerita ini masih terbengkalai juga (benar-benar rekor)..
Impianku, aku benar-benar ingin membuat cerita ini menjadi sebuah novel..tak bisa sebagus pengarang handal memang, tapi setidaknya bisa membuatku bangga jika ak bisa membuat sebuah novel, setidaknya untuk diriku sendiri..semoga saja secepatnya aku bisa meneruskan cerita ini hingga selesai
ku beri judul "1 Heart 3 Boys"  terlebih dahulu novel ini. Sinopsisnya kira2 seperti ini :


      Gimana ya, rasanya kalo disukai tiga cowok keren dalam waktu yang sama? Pasti bingung donk! Itu juga yang dirasakan Rei, saat ia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, tiba-tiba saja ada tiga cowok yang suka sama dia.
      Ada Daman, cowok paling jail dan nyebelin sedunia bagi Rei, namun ia juga sempat menyelamatkan nyawanya. Lalu Arsya, anak baru di sekolah Rei yang keren tapi culun dengan kacamata minusnya, namun memiliki doble personality. Serta Gian, kakak angkat Rei yang super duper jutek, tapi terobsesi banget buat ngedapetin Rei.
      Kelebihan dan kekurangan tiga cowok ini membuat Rei bingung. Belum lagi ulah mereka yang membuat Rei merasa lelah. Apa aja sih yang mereka perbuat untuk ngerebut hati Rei? Kalau mau tau serunya tiga cowok ini memperebutkan Rei, baca aja kelanjutannya...


Bersambung......

Kamis, 20 September 2012

CERPEN 2 (Abangku, Rivalku)

cerita ini terinspirasi dari temen SMA ku yang bernama Indah. Dia orangnya rame banget dan sering banget cerita tentang "perangnya" sama abangnya yang kalo gak salah namanya kakas (maaf ka, namanya di pake di cerpen ini, :) ). Sebenarnya hingga sekarang, dia gak tau kalo cerita dia sama abangnya jadi inspirasi buatku menulis cerpen ini, tapi semoga dia gak marah, ;) 



ABANGKU, RIVALKU

 

“Fay, lo punya temen gak?” Kakas lagi ngebujuk adenya yang lagi ngetik makalah di komputernya

“Ya punya, lah. Udah dua taun di SMA, masa gak punya temen, sih?” Fayya jadi sewot juga dikira kuper

“Minta nomor temen-temen cewek lo, donk!” Kakas beranjak dari tempat tidurnya mendekati Fayya.
“Mau ngapain?” Fayya menimpali dengan cuek
“Gini, Fay. Gue kan punya bonus pulsa, trus gue bingung mau ngirim sms ke siapa lagi. Jadi, gue pengen sms-an sama temen-temen lo” Terang Kakas
Kali ini, Fayya gak mengomentarinya, ia lebih fokus ke kerjaannya, yang sejak tadi belum kelar-kelar karena digangguin sama abangnya terus. Iklas gak sih minjemin komputernya? Dari tadi diganggu mulu
“Fay, kok lo diem aja sih?” Kakas jadi sebel juga dicuekkin
“Ya udah, cari aja di Hp gue” Akhirnya Fayya nyerah juga.
Kakas tampak bahagia sekali. Ia buru-buru ngambil Hp Fayya, dan langsung beraksi mencari nama-nama teman adenya.
“Reva” Kakas menyebutkan satu nama di Hp Fayya
“Eh, Reva jangan! Dia tuh anak baek-baek. Gue gak mau lo maenin dia. Sini!” Fayya ngambil Hpnya, lalu mencari nama-nama di Hpnya. “Nih, yang boleh lo hubungi. Emil, Kania dan Vika. Mereka pasti seneng kalo kenalan ma cowok”
“Mhm…Emil, kayaknya lucu. Orangnya kayak gimana?” Kakas jadi penasaran
“Dia tuh cerewet, centil, tapi baik kok”
“Cerewet?” Kakas tampak berpikir. “Gak pa-pa deh, buat iseng ini” Akhinya Kakas memilih Emil untuk di sms-nya.
Malamnya, Kakas segera ber-sms ria dengan. Emil yang emang seneng kenalan sama siapa aja, terutama cowok membalasnya dengan senang hati. Apalagi Kakas juga ngaku kalo dia kakaknya Fayya.
Setelah capek sms-an, Kakas akhirnya nelpon Emil. Maklum udah jam 10, jadi bonusnya berakumulasi.
“Mil, si Fayya tuh galak banget lho kalo di rumah. Di sekolah gimana?” Tanya Kakas gak penting.
“Yaa…gitu deh!” Jawab Emil agak males. Kok nyambung ke Fayya sih? Bukannya tadi lagi ngomongin kucing piaraannya?
“Si Fayya tuh emang gak beda jauh sama kucing piaraan gue, sama-sama suka gigit!”
“Oohh!” Sekarang Emil ngerti kenapa Kakas jadi ngomongin Fayya.
Kakas ngelanjutin obrolannya tentang kucing piaraannya sambil berjalan ke kamar Fayya. Sumpek nih di kamar, kalo di Kamar Fayya pasti seger. Soalnya jendela kamar Fayya deket sama pohon-pohon. So, anginnya bakal masuk ke ventilasi jendela.
Kakas langsung duduk di tempat tidur adenya yang emang deket ma jendela. “Mil, lo tau gak kalo si Fayya suka ngorok?” Kakas nanya gak penting lagi sama Emil, setelah merhatiin ade semata wayangnya yang lagi tengkurep. Padahal, Fayya gak bersuara sedikitpun.
“Masa?” Emil jadi agak semangat juga ngomongin Fayya, biar di sekolah dia bisa ngejekin si tomboy satu itu.
“Iya, dia juga suka ngiler lho! Hehehe….” Ejek Kakas tambah parah, sambil tertawa geli ngeliat adenya.
Fayya yang lagi tidur pules keganggu juga sama tawanya Kakas. Ia mulai sedikit membuka matanya, tanpa beranjak dari posisinya. Lagi ngapain sih si Kakas nelpon di kamar gue? Tanya Fayya dalam hatinya.
“Masa sih? Fayya kan cewek, kok suka ngorok sama ngiler?” Emil percaya gak percaya ngedenger ejekannya Kakas. Kakas kok tega ngejelekin adenya sendiri?
“Mil, Fayya sih fisiknya aja cewek. Tapi jiwanya lelaki abis. Hahaha…..” Kakas ketawa semakin kenceng, dan di seberang sanapun Emil ikut tertawa gak kalah kencengnya.
Fayya yang udah gak tahan denger ejekan Kakas, langsung berbalik badan dan…..”HEEEH!! JANGAN SEMBARANGAN YA KALO NGOMONG!!” Fayya
 ngeluarin suara toa-nya yang ngebuat Kakas juga Emil di seberang sana spontan menghentikan tawa mereka.
“Bikin kaget aja, lo! Jantungan nih, gue!” Ucap Kakas sambil ngelus-ngelus dadanya.
“Lo tuh ngapain sih di kamar gue? Pake ngejek-ngejekin gue lagi. GAK ADA KERJAAN BANGET SIH, LOOO!!” Cerocos Fayya masih dengan suara toa-nya.
“Kirain lo udah tidur. Biasanya kan kalo lo tidur tuh kayak kebo, gak akan keganggu sama apapun” Kata Kakas yang masih ngedeketin hp-nya di telinga kanannya. Dan tentu saja, Emil yang masih ngedengerin langsung ketawa lepas, sampe Fayya aja ngedenger suaranya.
Fayya langsung ngambil, tepatnya ngejambret hp Kakas. “Mil, lo jangan percaya sama omongannya si Kakas. Dia tuh emang kakak yang gak berperikekakaan” Fayya pun langsung mematikan hp Kakas dan melemparnya ke muka Kakas. Untung aja, Kakas dengan sigap menangkapnya. Kalo nggak, bisa jadi rongsokan tuh hp.
“Lo tuh tega banget sih sama gue, Kas. Jadi lo minta nomor hp Emil cuman buat ngejelekin gue doang?” Fayya jadi nyesel deh, ngasih tau nomor hp Emil sama abangnya yang rese ini.
“Sory, Fay. Guekan cuman nyamain lo sama si Piko!” Ungkap Kakas dengan muka menyesal yang dibuat-buat.
“HAAAH! JADI LO NYAMAIN GUE SAMA KUCING JANTAN LO ITU? Rese banget sih, lo!”
Kakas yang tau kalo kali ini Fayya bener-bener marah, langsung kabur sebelum di bombardir sama adenya.
“Sini lo, jangan kabur!” Fayya pun dengan cepat ngejar kakaknya.
Aksi kejar-kejaranpun berlangsung ke ruang TV dan ngebuat gaduh suasana rumah. Mama yang lagi tidur tenangpun jadi keganggu.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Kriiiiiiiiiing…” Jam weker di kamar Fayya udah ½ jam berkoar, tapi Fayya gak bergeming sedikitpun dari tidurnya.
Kakas yang udah siap kuliah langsung keluar kamar menuju kamar Fayya. “Si Fayya emang kebo, nih! Jam udah bunyi dari tadi, masih juga belum bangun. Buat apa masang alarm donk?” Omel Kakas yang udah bosen ngedenger wekernya Fayya yang teriak minta tolong karena yang punya weker gak bangun-bangun.
Kakas terdiam sejenak di pintu kamar, mencari ide buat ngebangunin Fayya yang tengah tengkurep.
Beberapa detik kemudian, Kakas mendekati tempat tidur Fayya setelah dapet ide cemerlang, ide jail tentunya. Kakas segera pasang kuda-kuda (Kakas mau ngebangunin Fayya ato mau pencak silat, ya???), lalu balik badan berlawanan dengan tempat tidur di mana adenya tengkurep. Trus……ia menjatuhkan badannya tepat di atas pungggung Fayya dengan tenangnya.
Fayya yang lagi asyik-asyik mimpi jadi keganggu. Emang ada gempa bumi, ya. Kok ada lemari nindihin gue? Pikir Fayya setengah sadar.
Kakas tertawa senang dan ngebuat Fayya sadar kalo yang nindihin punggungnya adalah si Kakas.
“HEEEH!!! KAKAS NGAPAIN SIH NINDIHIN GUE?” Teriak Fayya yang ngebuat Kakas segera loncat dan tutup kuping. Kalo deket-deket Fayya terus, bisa budek nih kuping.
“Gue kan cuman pengen ngebangunin lo” Kata Kakas yang masih menutup kupingnya.
“Lo tuh bukan ngebangunin gue, tapi nyiksa gue. Mana badan lo segede gajah lagi. Sakit tau! BISA GAK SIH BANGUNIN GUE BAIK-BAIK???” Lanjut Fayya masih dengan teriakannya yang super dahsyat. Untung aja Kakas masih menutup kupingnya.
“Kalo bangunin baek-baek, bisa jam 7 lo baru bangun. Gak tau apa weker lo udah kecapean teriak-teriak ½ jam?” Jawab Kakas sambil menurunkan kedua tangannya.
Fayya manyun. Ia sadar kalo ia emang gak ngedenger wekernya bunyi dari tadi.
“Makanya gue bangunin lo dengan cara yang special, lebih cepet lagi. Kan lumayan ngirit baterei weker lo” Kakas ngelirik weker Fayya yang udah dimatiin. Fayyapun ikut-ikutan ngelirik.
“HAAH!! Udah ½ 6? Mati gue, telat nih!” Fayya baru sadar kalo ia telat dan segera ke kamar mandi. Padahal, ia masih pengen ngeluarin “ajian-ajiannya” buat Kakas.
“Pagi, ma!” Fayya yang udah selesai dengan rutinitas paginya menyapa mamanya yang lagi duduk sarapan. Ia langsung ambil susu dan meminumnya sambil berdiri, yang langsung dapet pelototon dari mamanya.
“Maaf ma, lagi darurat” Terang Fayya “Ma, aku gak sarapan, ya! Udah telat nih, mau piket” Fayyapun langsung nyium tangan mama diiringi Kakas yang udah selesai sarapan.
“Fay, bensin gue abis, nih!” Kata Kakas yang lagi manasin motornya
“Trus?” Tanya Fayya sambil kasak-kusuk dengan tasnya
“Yaa…harus beli bensin!” Lanjut Kakas
“Trus…trus…” Fayya masih berkutat dengan tasnya
“Ntar ke Pom Bensin dulu, ya!” Terang kakas kembali
“Iya, gak pa-pa. Biarin deh gak piket juga, asal jangan telat masuk aja” Kata Fayya lalu melirik ke tangan abangnya yang tengah menengadah dengan tersenyum.
“Apaan?” Tanya Fayya gak ngerti
“Maksud gue, mana uang bensinnya?”
“Kok minta sama gue? Lo kan udah dapet jatah dari mama?” Tolak Fayya
“Kalo gak ngasih, ya udah. Gue gak mau nganterin lo!” Ancam Kakas
“Lo kan mau ke kampus, jadi sekalian nganterin gue donk!” Pinta Fayya
“Kalo jalan ke sekolah lo, bensinnya gak cukup. Mending gue cari jalan pintas yang lebih deket aja!”
“Lo tuh rese banget sih. Masa gue harus naek angkot?” Fayya ngebayangin kalo naek angkot, ngetemnya gak bisa diampuni. Bisa tua di jalan, nih.
“Makanya, mana uang bensinnya?” Bujuk Kakas sambil menengadahkan kembali telapak tangannya.
“Nih! Rese lo!” Fayya dengan terpaksa memberikan uang dua puluh ribu pada Kakas. Kakaknya itu emang super rese.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Bruk!!!” Fayya menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Cape banget karena baru aja lari-larian. Soalnya, ia berusaha ngehindar dari makhluk-makhluk jail yang mau ngerjain dia. Pasalnya, hari ini Fayya ultah yang ke-17. Jadi, kalo gak ngehindar bisa-bisa Fayya udah jadi kue tart karena ditaburi terigu plus telur di kepalanya. Untung aja, Fayya dengan sigap segera pulang pas bel berbunyi. Tapi diikuti aksi kejar-kejaran dengan teman-temannya yang gak mau nyerah.
“Tok…tok…tok…” Fayya kaget ngedenger pintu kamarnya di ketok. Siapa ya? Mama kan lagi ngajar? Kakas? Gak mungkin. Dia sih maen slonong boy aja kalo masuk kamar.
“Faayy” Suara Kakas memanggil di balik pintu
Itu emang Kakas, pikir Fayya “Masuk!” Kakas segera masuk setelah dipersilahkan
“Tumben lo ketuk pintu segala?” Tanya Fayya yang gak dijawab sama Kakas. Ia malah tersenyum dengan manis. Wah, Fayya jadi curiga nih, jangan-jangan si Kakas mau ngerjain dia? Pantes aja dari tadi gak ngucapin met ultah.
“Jangan ngedeket lo, pasti mau ngerjain gue!” Larang Fayya yang segera pasang ancang-ancang buat kabur.
“Tenang donk, Fay. Lo kok curigaan banget sih sama gue?” Kata Kakas berusaha menenangkan adenya.
“Habis, lo kan rese banget sama gue”
“Iya deh, gue ngaku emang suka rese sama lo. Tapi, hari ini damai, deh. Gencatan senjata dulu. Ok!” Terang Kakas
“Hah??” Fayya bener-bener bingung sama Kakas hari ini. Tapi, ia harus tetep hati-hati.
“Nih, buat lo!” Kakas memberikan kado berbungkus gambar kucing pada Fayya
“Apaan nih?” Tanya Fayya curiga
“Buka aja!” Suruh Kakas
Fayya pun membuka kado itu dengan hati-hati. Jangan-jangan bom lagi!
“Hah! Ini beneran buat gue?” Tanya Fayya masih gak percaya dengan kebaikan Kakas hari ini. Kakaknya itu memberikan sebuah MP4 warna putih yang udah diimpi-impikan Fayya sejak dulu.
“Happy seventeen, ya!” Kakas ngucapin met ultah ke Fayya sambil memeluk adenya dengan hangat.
“Lo dapet duit dari mana?” Aduh, Fayya masih gak percaya sama kakaknya ini
“Yaa… gue kumpulin dari duit jajan, lah” Jawab Kakas yang ngebuat mata Fayya berkaca-kaca.
Kakas emang nyebelin, tapi dia tetep abang gue yang paliiing perhatian, pikir Fayya
“Kas, makasih ya!” Fayya segera memeluk kakaknya dengan haru.


Rabu, 19 September 2012

CERPEN 1 (Jomblo Lagi, Deh!)

Cerpen ini ku buat pada waktu kelas 2 SMA, munkin cerita ini terinspirasi dari novel2 teenlit yang ku baca.
walaupun ceritanya tdk terlalu special (menurutku sekarang), tp alhamdulillah, cerpen ini sudah pernah di muat di salah satu Tabloid teenlit beberapa tahun lalu.. this is it:

Jomblo Lagi, Deh!



“Tolongin Gue dong, gue bener-bener pengen punya pacar nih!” Seorang pemuda yang biasa dipanggil Vian membujuk temannya, Aries.
“Gimana ya, syaratnya susah sih. Mana ada cewek yang tomboy tapi cantik, harus pendiam pula. Dimana-mana, cewek tomboy itu galak, judes, cerewet, dan gak cantik-cantik amat. Gimana sih lo?” Aries tampak kesal pada sahabatnya itu, yang sudah satu minggu lebih memintanya mencarikan pacar dengan kriteria yang aneh.
“Habis gue gak suka sama cewek yang sok feminim, kesannya jadi centil. Gue lebih suka cewek yang tomboy. Kan lo udah tau Ries, gue masih trauma sama cewek centil” Sejenak pikiran Vian melayang, membayangkan mantan ceweknya, Winta. Winta sangat feminim sekali, suka dandan, cantik sih, tapi centilnya amit-amit deh. Pernah suatu kali, Vian mergoki dia lagi ngegodain cowok laen, terang aja Vian langsung mutusin dia. Makanya, sekarang dia ngejomblo, karena masih trauma sama mantannya. Tapi, berhubung dia jomblonya udah dua bulan, dia kesepian juga. Ditambah lagi, dia gak punya pasangan buat ke pesta ultah temennya entar. Soalnya bakal ada pesta dansanya segala, kan repot kalo gak punya pasangan.
“Iya gue tau, tapi lo jangan sampe alergi gitu dong, sama cewek feminim. Gak semuanya kayak Winta kok!” 
“Pokoknya jangan centil deh, gak tomboy juga gak apa-apa”
“Iya deh, gue usahain”
“Cepetan kasih kabar gue ya, kalo dah dapet” Ucap Vian sambil pergi dengan BMW-nya
“Dapet, dapet, emang barang dijualan di pasar, bisa didapetin gitu aja?” Gerutu Aries yang kesal karena didesak terus sama Vian.
♥♥♥
Keesokan harinya, seperti biasa Aries datang ke kelas Tridy, adik kelasnya yang dia kenal saat MOS. Biasa, mau PDKT sama kecengannya itu.
“Hai Di, lagi ngapain?”
Tridy yang lagi baca novel jadi kaget juga “Eh, Aries. Lagi baca. Ada apa?”
“Nggak” Aries berpikir sejenak, mencari topik yang bagus buat dibicarakan sama Tridy sambil menatap wajahnya yang cantik dan mungil itu.
“Ada apa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” Tridy sadar kalo sedari tadi, Aries menatap wajahnya
“Eh, gak apa-apa” Aries jadi gelagapan ketauan lagi mengagumi wajah kecengannya itu. “ Oh iya Di, ada yang pengen aku omogin nih, sama kamu” Gue minta tolong Tridy aja deh,  nyariin pacar buat Vian, pikir Aries.
“Tentang?”
“Gimana kalo ngomongnya di kantin aja!” Ajak Aries. Kebetulan, sambil mencari jodoh buat Vian, sekalian PDKT ma Tridy. He..he..
“Ok, tapi aku ditraktir ya!”
“Tentu dong” Aries langsung mengiyakan. Gak apa-apa deh duit tekor, yang penting misi jalan.
Vian itu emang anak orang kayak, apa aja yang dia mau pasti bisa didapetin dengan uang. Termasuk minta dicarikan pacar ke Aries. Kalo nggak, mana mau Aries repot-repot nyariin Vian pacar, dia sendiri aja masih jomblo.
Sesampainya di kantin…..
“Ada apa sih Ries, kayaknya penting banget ya?” Tanya Tridy penasaran
“Gini Di, kamu punya temen cewek tomboy yang cantik, gak?”
“Cewek tomboy yang cantik?” Tridy mengulangi pernyataan Aries. Ariespun mengangguk beberapa kali.
“Emang kenapa? Kamu lagi nyari pacar?” Tanya Tridy sambil tersenyum
“Bukan… bukan buat aku, tapi temenku yang lagi cari pacar” Jawab Aries sewot. Buat apa aku cari pacar lagi? Kan udah ada kamu…., pikir Aries
“Ohh. Tapi kenapa harus yang tomboy? Biasanya, cowokkan suka sama cewek yang feminim?”
“Justru dia kebalikannya, dia gak suka sama cewek yang feminim, kesannya centil katanya”
“Kan gak semua cewek feminim centil?”
“Gak tau deh… Gimana, kamu ada temen gak?”
Tridy berpikir sejenak. Cewek tomboy, gak centil, gak feminim, tapi cantik? Siapa ya?. Oh iya…Gia. Akhirnya Tridy menemukan juga temannya yang tomboy.
“Ada, namanya Gia, temen sekelasku. Emang sih, dia gak tomboy-tomboy amat, tapi dia cantik kok”
“Wah, yang bener?” Aries jadi seneng ngedengernya.  Tapi, mendadak dia jadi cemas. “Dia masih jomblo kan?”
“Iya lah, habisnya dia galak sama cowok. Gimana tuh?”
“Gak apa-apa deh, justru bagus lagi. Temen aku tuh lebih suka sama cewek galak dari pada yang centil”
“Kok aneh sih?”
“Udah…gak usah dipikirin. Yang penting kamu tanyain dulu sama temen kamu itu, mau gak sama Vian, anaknya pinter, lumayan cakep, kaya lagi” Kata Aries mempromosikan Vian
“Vian? Kapten tim basket itu?” Tridy jadi heran juga. Masa Vian minta dicariin cewek sama Aries, emang dia gak bisa cari sendiri? Dia kan ganteng, pasti disukai banyak cewek.
“Iya. Kamu tau kan? Bagus kalo begitu. Ntar kalo dia setuju, kamu kasih tau aku ya!”
“Ok!”
Aries pun kemudian pergi tergesa-gesa dengan senangnya untuk menemui Vian.
♥♥♥
“Mana sih Ries?” Tanya Vian pada Aries. Mereka berada di seberang kelas Tridy, untuk memperlihatkan Gia pada Vian. Setelah Tridy bilang Gia mau dijodohin sama Vian, mereka janjian untuk mempertemukan mereka, tapi dari jarak jauh dulu. Katanya sih, Gia masih malu kalo ketemu langsung sama Vian.
“Itu tuh, yang rambutnya panjang” Aries menunjuk pada cewek disamping Tridy
“Oh, yang itu. kok gak tomboy, Ries?”
“Iya sih, dia emang nggak tomboy-tomboy amat.”
“Ya udah deh, gak apa-apa. Yang penting dia gak centil kan?”
“Nggak sih, tapi dia katanya galak lho!”
“Ah, gak apa-apa, yang penting dia cantik, mungil. Pokoknya, bukan Winta banget deh”
“Jadi lo suka?”
“Suka, suka banget. Pas banget sama kriteria gue”
“Ok deh, kalo gitu gue bakal bilang sama dia”
Setelah Vian setuju, Ariespun mengacungkan jempolnya kepada Tridy yang sedang bersama Gia. Tridypun melakukan hal yang sama, sambil tersenyum ke arah Aries dan Vian.
“Vian setuju, Gi” Kata Tridy setelah mereka berada di kelasnya.
“Dia mau sama gue?”
“Iya, tadi Aries udah kasih tanda, kalo Vian suka sama lo”
“Wah, gue gak nyangka tipe Vian kayak gue. Dia kan bintang di sekolah kita, Di”
“Gue juga heran, masa sih gak ada yang mau sama dia? Tapi biarin aja deh, yang penting diakan udah suka sama lo. Berarti lo harus siap-siap ke pesta dansa sama dia”
“Ke pesta?”
“Iya, dia kan belum punya pasangan dansa, sekalian mau nembak lo di  sana”
“Berarti, gue harus pake gaun dong? Pake high heels?”
“Ya, iya lah, namanya juga pesta dansa”
“Gue kan paling gak suka sama dua barang itu, Di?”
“Berkorban dikit kenapa sih? Kan ntar bakal pacaran sama Vian”
“Tapi lo temenin gue ya?”
“Iya. Gue juga udah diajak sama Aries”
“Aries yang ngejodohin gue sama Vian?”
Tridypun mengangguk
“Jangan-jangan, selain ngejodohin gue, dia juga mau ngejodohin dirinya sendiri?” Tanya Gia curiga
“Apa sih maksud lo?” Jawab Tridy yang balik bertanya malu-malu
Perbincangan mereka pun terhenti karena guru mereka sudah datang
♥♥♥
“Gimana penampilan gue?” Tanya Vian pada Aries setelah sampai di pesta ultah temannya.
“Lo udah keren kok!” Jawab Aries sambil mengacungkan kedua jempolnya
“Gue deg-degan nih!” Kata Vian sambil berjalan dikeramaian pesta
“Kayak baru pertama kali nembak cewek aja lo?”
“Yang ini lain, Ries. Kalo ditolak gimana? Katanya dia galak?”
“Gimana dia mau nolak lo kalo dia mau diajak ke sini? Lagian, siapa sih, yang mau galak sama lo?” Aries sadar, Vian terlalu ganteng kalo mau digalakin sama cewek
“Iya sih!” Tanya Vian dengan tampangnya yang cool
“Udah ah” Aries sebel juga sama sahabatnya yang sok cool ini.
Merekapun berjalan kembali mencari Tridy dan Gia. Tak lama kemudian, Tridy telah datang dengan memakai gaun biru selutut berlengan pendek, yang tampak serasi dikenakan pada tubuhnya yang mungil (walaupun udah pake high heels, tetep aja kelihatan mungil, alias pendek??). Ia berjalan ke arah Vian dan Aries bersama Gia, yang malam itu tampak berbeda sekali. Ia berjalan agak sempoyongan, karena harus memakai sepatu ber-hak tinggi, yang jarang bahkan tidak pernah dipakainya.
“Tuh mereka” Aries menunjukkan mereka berdua pada Vian
“Dia tambah cantik ya malam ini?”
“Siapa? Gia?”
“Ya iyalah, siapa lagi? Tapi, cewek disampingnya itu siapa?” Tanya Vian pada Aries yang sedang melambaikan tangannya pada Tridy
“Oh, itu Tridy, pasangan gue”
“Jadi, lo juga punya pasangan?”
“ Iya dong, emangnya gue mau jadi kambing congek?”
Vian nyengir sesaat, namun dia jadi bengong ketika Tridy dan Gia sudah berada di dekatnya
“Hai” Sapa Tridy
“Hai” Jawab Aries dan Vian bersamaan
“Sory ya, telat. Udah lama?” Tanya Tridy
“Belum, kita juga baru datang kok” Jawab Aries. “Kita duduk dulu yuk, kan dansanya belum dimulai” Lanjutnya
Mereka berempatpun kemudian duduk di sofa yang disediakan. Tridy dan Aries langsung larut dalam perbincangan tentang keramaian pesta itu. Sedangkan Vian malah bengong aja mengamati cewek yang sebentar lagi akan ditembaknya. Gia lain lagi, dia malah sibuk mijitin kakinya yang pegel gara-gara high heels yang dipakenya.
Disaat Aries sedang asyik mengobrol dengan Tridy, tiba-tiba saja dia menerima telepon. Ia terpaksa menjauh dari kebisingan itu, untuk menerima teleponnya. Sesaat kemudian, Gia juga pergi ke toilet, karena sudah nggak tahan dengan sesuatu (apa ya?). Tinggalah Vian dan Tridy berdua.
Aduh, tinggal berdua nih, apa gue ngomong sekarang aja? Tapikan, janjinya pas udah dansa. Ah, sekarang aja deh, gue udah gak tahan nih, pengen ngomong… Vian berbicara pada dirinya sendiri sambil mengamati Tridy yang tengah asyik menikmati alunan musik.
“Hei…” Sapa Vian dengan nada yang canggung sekali.
“Ya. Ada apa?” Tanya Tridy
“Mhm…gue pengen ngomong sesuatu”
Tridy tampak bingung, namun ia tak berkata apa-apa. Mau nanya-nanya soal Gia kali, ya? Pikirnya
“Gue…gue….suka….sama….lo” Plong….Vian ngerasa lega karena sudah ngeluarin beban yang ada dalam hatinya itu
Asli, Tridy bengong, sebengong-bengongnya. Kok gue sih? Tanyanya dalam hati, karena saking kagetnya, dia gak sanggup berkata apa-apa
“Kenapa? Aries udah bilang kan sama lo?”
“Iya….”
“Terus gimana? Lo terima gue?” Vian memotong perkataan Tridy
“Lo salah paham”
“Maksud lo?”
“Gue….”
“Gue suka sama lo, Gi. Bener” Lagi-lagi ucapan Tridy yang belum selesai dipotong oleh Vian
“Gue bukan Gia!” Kata Tridy agak kesal karena dari tadi omongannya dipotong terus
“Jadi, nama lo siapa? Kata Aries nama lo Gia?”
“Gue Tridy. Gia itu temen gue yang tadi, yang bareng gue. Aries tuh mau ngejodohin lo sama dia, bukan gue” Tridy menerangkan
“Jadi bukan lo?” Tridy menggeleng. “Terus, kenapa waktu itu Aries bilang yang rambutnya panjang? Itu kan elo?”
“Aries tuh nunjukin Gia. Rambut Gia kan lebih panjang dari gue?”
“Tapi, gue sukanya sama lo, bukan sama temen lo?” Ucap Vian jadi kecewa
“Sory, lo salah orang”
“Kalo gitu, lo aja yang jadi cewek gue” Ucap Vian yang berubah senang
“Hah…??” Tridy jadi bengong lagi sama pernyataan Vian
“Gimana?”
“ Aduh…sory banget ya, tapi gue….. udah jadian sama…. Aries”
“Jadian sama Aries?” Kata Vian dengan nada yang tinggi, sampai orang-orang di sekelilingnya jadi memperhatikan mereka
“Iya. Baru tadi pagi dia nembak gue, dan…. gue langsung terima” Jawab Tridy dengan nada penyesalan. “Sory ya, gue gak tau kalo lo…”
“Gak apa-apa. Ini salah gue kok, gak nanya-nanya dulu dengan jelas ke Aries”
“Ya udah, kalo gitu, gue mau nyamperin Aries dulu ya!” Kata Tridy sambil berjalan menjauhi Vian untuk mencari Aries. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya.
“Dasar nasib. Jomblo lagi, deh” Ucap Vian pasrah pada nasibnya yang akan menjomblo lagi.